Hampir 20 Tahun Berlalu, Guillermo del Toro Akhirnya Buka Suara Soal Batalnya Film BioShock
rumor tentang adaptasi film dari game legendaris BioShock pasti sudah tidak asing lagi terdengar. Kabar burung bahwa sutradara visioner Guillermo del Toro akan menahkodai proyek ini telah berhembus sejak tahun 2008 silam, hanya setahun setelah game mahakarya ini pertama kali dirilis dan mengguncang industri video game.
Setelah hampir dua dekade menyimpan rapat-rapat misteri tersebut, sutradara di balik film Pan’s Labyrinth dan The Shape of Water ini akhirnya mengonfirmasi kebenarannya. Namun, bagi kamu yang berharap ada kabar baik, bersiaplah untuk kecewa. Pasalnya, del Toro secara terang-terangan menyebut negosiasi proyek tersebut sebagai sebuah pengalaman yang berujung tragis.
Dinamika Game vs Film: Alasan Del Toro Mundur dari Rapture
Dalam sesi wawancara terbarunya, Guillermo del Toro menceritakan alasan mengapa membawa jagat BioShock ke layar lebar terasa begitu alot dan rumit baginya.
“Kalian tahu, saya sudah mencoba,” ungkap del Toro. “Kami melakukan panggilan telepon yang sangat alot mengenai beberapa game. Menurut saya, dinamika dalam sebuah video game itu sangat berbeda dengan film. Mungkin secara sinematik mereka terlihat mirip dari segi pergerakan kamera dan sebagainya, tapi cara penyampaian ceritanya (storytelling) sangatlah berbeda, karena [dalam film] audiens tidak memecahkan teka-teki, kalian tidak sedang merakit sesuatu.”
Lebih lanjut, del Toro memberikan perbandingan dengan pengalamannya saat mengembangkan game horor Insane. Ia menjelaskan betapa berbedanya merancang struktur untuk sebuah game dibandingkan film linear.

“Saat kami merancang Insane, kami menciptakan apa yang saya sebut sebagai ‘mandala’,” lanjutnya. “Kamu harus memberikan ilusi berupa dunia bebas tanpa batas, dan membiarkan audiens bergerak ke kanan atau ke kiri melalui ‘keputusan mereka sendiri’, padahal sebenarnya kamu sedang memojokkan mereka. Jadi, itu adalah hal yang sangat berbeda.”
“Panggilan Telepon Paling Bencana”
Sebelumnya, del Toro memang tidak pernah mengonfirmasi keterlibatannya secara resmi dalam proyek adaptasi BioShock, selain memuji game berlatar kota bawah laut Rapture itu sebagai salah satu video game favoritnya sepanjang masa.
Namun, ketika disinggung mengenai proses adaptasinya, ia memberikan jawaban yang sangat blak-blakan. “Jadi soal mengadaptasi BioShock, kami melakukan beberapa kali panggilan telepon. Dan itu mungkin menjadi salah satu panggilan telepon paling membawa bencana yang pernah saya alami. Jadi… oh tentu tidak (tidak lanjut).
Nasib Film BioShock Saat Ini
Meski versi Guillermo del Toro dipastikan kandas, para penggemar BioShock masih memiliki secercah harapan. Adaptasi film BioShock saat ini sedang dalam proses pengerjaan, namun tongkat estradanya beralih ke tangan Francis Lawrence, sutradara di balik kesuksesan waralaba The Hunger Games.
Pada tahun 2025 lalu, produser Roy Lee mengonfirmasi bahwa film ini akan setia mengadaptasi cerita dari game pertamanya. Penulis naskah Justin Rhodes (Terminator: Dark Fate) saat ini sedang menyusun naskahnya bersama Lawrence. Hanya saja, dengan kesibukan Lawrence yang juga tengah menggarap prekuel The Hunger Games: Sunrise on the Reaping, tampaknya kita masih harus bersabar sedikit lebih lama sebelum akhirnya bisa melihat aksi Big Daddy dan Little Sister di layar kaca, apalagi proyek Netflix ini pertama kali diumumkan pada 2022.

Bagaimana menurut kalian? Apakah gaya visual dark fantasy ala del Toro sebenarnya lebih cocok untuk menghidupkan teror di kota Rapture, atau Francis Lawrence adalah sosok yang lebih pas untuk mewujudkan proyek ambisius ini?