CEO Asha Sharma Tegaskan Xbox Tetap di Microsoft, Tepis Rumor Liar di Tengah Badai PHK

Industri game global saat ini sedang melewati fase yang sangat bergejolak, dan Xbox tampaknya berada tepat di pusat badai tersebut. Dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang diproyeksikan memakan korban hingga 3.200 karyawan pada akhir tahun fiskal ini, rumor mengenai nasib masa depan raksasa gaming milik Microsoft ini pun semakin liar.

Banyak studio yang telah ditutup paksa, proyek game dibatalkan, dan tim-tim besar di bawah payung Xbox Game Studios (seperti Halo Studios) dilaporkan telah dirampingkan secara drastis hingga hanya menyisakan kru inti.

Rumor divestasi atau pelepasan Xbox semakin memanas ketika CEO Microsoft, Satya Nadella, baru-baru ini menyebut bahwa “perampingan” di Xbox ini adalah “sesuatu yang sangat bagus untuk dilihat.” Pernyataan tersebut tak pelak memicu spekulasi liar di kalangan gamers dan analis industri bahwa Microsoft mungkin bersiap untuk menjual Xbox. Namun, benarkah demikian?

Bantahan Keras dari Pimpinan Xbox

Menanggapi rumor yang beredar luas, CEO Xbox Asha Sharma akhirnya buka suara dan memberikan pernyataan yang sangat lugas. Dalam wawancaranya dengan The New York Times, Sharma memastikan bahwa ekosistem Xbox tidak akan dipindahtangankan ke pihak lain.

“Xbox tidak untuk dijual,” tegas Sharma. “Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mengatur perusahaan agar sukses, dan kami akan mencari kemitraan yang tepat, model operasi yang tepat, dan segala hal yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.”

Restrukturisasi Terbesar dalam Sejarah Xbox

Sebelumnya pada bulan Juni, laporan dari The Information mengindikasikan bahwa Microsoft diam-diam mempertimbangkan untuk memisahkan Xbox atau memolesnya agar siap dijual dengan cara merestrukturisasi perusahaan menjadi anak perusahaan independen. Hal ini tidak terlepas dari lesunya penjualan perangkat keras (konsol) Xbox selama beberapa tahun terakhir, serta transisi ke strategi rilis multiplatform yang bertumpu pada Xbox Game Pass yang ternyata belum membuahkan hasil sesuai ekspektasi.

Menghadapi tantangan berat ini, Sharma pada bulan Juli lalu mengumumkan apa yang ia sebut sebagai “restrukturisasi paling signifikan dalam sejarah Xbox,” di mana sekitar 1.600 pekerja harus dirumahkan. Gelombang PHK ini berlanjut pada bulan September dengan sekitar 250 karyawan tambahan yang terpaksa dilepas, termasuk talenta-talenta dari studio The Coalition (developer Gears of War) dan World’s Edge (developer Age of Empires).

Fokus pada Visi Jangka Panjang

Semua perubahan radikal dan menyakitkan ini, menurut Sharma, pada akhirnya ditujukan untuk menciptakan ekosistem Xbox yang berkelanjutan dan mampu mencetak keuntungan optimal, meskipun proses perbaikannya mungkin akan memakan waktu hingga bertahun-tahun.

“Perjalanan kami masih panjang bersama Microsoft,” ujar Sharma, “dan kami akan mengambil pandangan jangka panjang.”

Sementara itu, dari sumber internal Xbox, seorang karyawan dari id Software membocorkan bahwa saat ini “satu-satunya hal konkret yang dikomunikasikan oleh pihak manajemen adalah mereka menginginkan margin keuntungan yang lebih tinggi, dan mereka menginginkannya sekarang juga.”

Bagi para penggemar setia Xbox, kalian tampaknya bisa sedikit bernapas lega karena konsol hijau kesayangan ini dipastikan tetap berada di bawah bendera Microsoft. Namun, dengan perombakan struktur yang masih terus berjalan, kita semua harus bersiap menyambut wajah dan strategi baru dari Xbox di masa depan.

Bang Gimin

Penulis artikelnya Gimindo.com

Read Previous

Ghost of Yotei Bagikan Set Armor Helldivers, Astro Bot, dan Journey Gratis Mulai Hari Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *