Gimindo | Game Portal

Gagal Total di Pasaran! Sutradara Film Borderlands Akhirnya Buka Suara

Mengadaptasi video game legendaris ke layar lebar memang susah-susah gampang. Namun, siapa sangka proyek raksasa sekelas film Borderlands justru berakhir menjadi salah satu mega-flop terbesar. Membawa deretan cast bertabur bintang seperti pemenang Oscar Cate Blanchett, Jamie Lee Curtis, hingga Kevin Hart dan Jack Black, nyatanya tidak cukup untuk menyelamatkan film ini dari hujatan kritikus dan anjloknya pendapatan Box Office.

Lantas, apa yang sebenarnya salah? Setelah sekian lama bungkam, sang sutradara, Eli Roth, akhirnya blak-blakan menceritakan drama di balik layar adaptasi franchise andalan Gearbox ini.

Campur Tangan Studio dan memaksakan Rating PG-13

Melansir dari wawancara terbarunya yang dikutip oleh GameSpot, Eli Roth mengungkapkan bahwa visi orisinalnya untuk Borderlands dipangkas habis-habisan. Dengan biaya produksi super jumbo yang mencapai $120 juta (sekitar Rp 1,9 Triliun), pihak studio secara natural menjadi sangat menghindari risiko (risk-averse).

Demi meraup jumlah penonton yang lebih masif, para eksekutif studio memaksa film ini untuk mengejar rating PG-13. Artinya? Segala kegilaan, humor gelap, dan kekerasan brutal yang menjadi daya tarik utama dari game Borderlands harus “disunat”. Hasil akhirnya, Roth dengan pasrah menyebut bahwa film yang tayang di bioskop berubah menjadi “sesuatu yang bukan milik siapa-siapa.”

Berusaha Menyenangkan Semua Orang, Malah Jadi Blunder

Masalah utama dari film Borderlands adalah krisis identitas yang parah. Karena pihak studio takut rugi, mereka berusaha menjejalkan elemen yang bisa diterima oleh semua umur, padahal materi aslinya sangat dewasa. Roth dengan sangat tepat menganalogikan blunder ini:

“Ini bukan film anak-anak, tapi berusaha menarik perhatian semua orang. Film ini dibuat untuk para gamer, tapi tidak memiliki kekerasan yang gamer inginkan karena (adegan ekstrem) itu biayanya terlalu mahal. Pada akhirnya, Anda hanya mendapatkan film yang serba nanggung,” ungkap sutradara Inglourious Basterds tersebut.

Kekacauan produksi ini juga diperparah dengan pergantian tongkat estafet penyutradaraan. Sebagai informasi, Tim Miller (sutradara Deadpool) sampai harus turun tangan untuk mengurus reshoots alias syuting ulang.

Kapok dengan Studio Besar, Eli Roth Pilih Pindah Haluan ke Indie

Setelah pengalaman pahit proyeknya diobrak-abrik oleh studio raksasa, sutradara yang terkenal lewat film gore seperti Cabin Fever dan Hostel ini sepertinya kapok. Sebagai pelarian dari kekangan Hollywood, Roth kini berfokus pada film horor terbarunya berjudul Ice Cream Man, yang menceritakan penjual es krim yang mengubah anak-anak menjadi pembunuh.

Menariknya, ia merilis film ini di bawah bendera perusahaan produksinya sendiri, The Horror Section. Dengan budget “hanya” $5,5 juta, Roth sangat menikmati kebebasan kreatif penuh tanpa intervensi eksekutif berdasi.

Ia bahkan melontarkan kritik keras tentang sistem kepemilikan di Hollywood: “Stephen King memiliki (hak cipta) semua karyanya. Mengapa saya harus menciptakan sesuatu lalu menyerahkan hak kepemilikannya ke orang lain?”

Pada kasus Borderlands kembali menjadi bukti nyata bahwa mengorbankan jati diri dan jiwa dari sebuah franchise video game demi mencari “rating aman” seringkali berujung pada bencana. Kalau menurut kalian sendiri, apakah adaptasi Borderlands memang seburuk itu, atau masih layak dinikmati? gimana pendapat kalian guys…

0 Reviews

Write a Review