Perkembangan Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan di industri game memang makin ke sini makin bikin gila. Ada yang pro, ada yang kontra. Tapi bagi Yuji Horii, sang kreator legendaris di balik franchise Dragon Quest, AI justru jadi alat ajaib yang bikin proses game development jadi super instan!
Baru-baru ini, Horii merilis sebuah game baru yang ternyata murni dibuat menggunakan Generative-AI. Yang bikin kaget? Ia mengaku cuma butuh waktu sekitar 30 menit untuk meracik game tersebut!
Dari Kerja Keras Sendirian ke Instan Pakai AI
Lewat cuitannya di media sosial X pada akhir pekan lalu, developer berusia 72 tahun ini sedikit bernostalgia. Ia membandingkan proses kreatifnya saat ini dengan ketika ia menggarap game The Portopia Serial Murder Case di tahun 1983.
“Dulu, saya memikirkan ceritanya sendiri, menggambar sendiri, melakukan programming sendiri, dan menciptakan game itu benar-benar sendirian,” tulis Horii.
Namun sekarang, semuanya berubah drastis berkat AI. “Sekarang dengan menggunakan AI, meskipun saya tidak bisa menggambar atau coding, saya tinggal memberikan instruksi (prompt) ke AI dan membuat game yang lumayan bagus sendirian. Ini benar-benar menakjubkan,” tambahnya.
Game yang dibagikan Horii ini adalah sebuah game interogasi dengan hanya berbasis teks.
Ketertarikan Horii pada AI Bukan Hal Baru
Kalau kamu mengikuti update soal Dragon Quest, ketertarikan Yuji Horii pada AI sebenarnya sudah terlihat sejak awal tahun ini. Game MMO Dragon Quest 10 bahkan sempat berkolaborasi dengan Google Gemini AI untuk menggerakkan sebuah NPC chatbot bernama “Chatty Slimey”.
Slime pintar ini bisa diajak ngobrol langsung oleh para pemain, cocok banget buat pemain MMO yang mungkin lagi butuh interaksi ringan saat main.
Dalam wawancaranya dengan Famitsu beberapa waktu lalu, Horii membela penggunaan AI ini. Menurutnya, AI zaman sekarang sudah sangat pintar dan menyenangkan. “Tidak peduli apa yang saya tanyakan, AI hampir tidak pernah mengarang jawaban lagi. Teknologinya terus berevolusi. Slimey adalah teman ngobrol yang baik, dan saya rasa ini menurunkan batas bagi pemain untuk mulai berinteraksi dengan AI,” jelasnya.
Mengintip Masa Depan Game Garapan Yuji Horii
Melihat seberapa antusiasnya Horii dengan AI, rumornya ia sedang mempertimbangkan untuk memasukkan fitur chatbot AI ke dalam proyek game-game masa depannya. Saat ini, ia diketahui sedang sibuk menggarap Dragon Quest 12: Beyond Dreams dan sekuel kejutan dari The Portopia Serial Murder Case yang sudah dinanti selama puluhan tahun.
Tentu saja, penggunaan AI generatif di dunia game development masih jadi topik panas. Banyak pemain, developer, hingga aktor pengisi suara video game yang khawatir soal keamanan pekerjaan mereka. Apalagi belum lama ini, Google dan Unity juga memamerkan tool pembuat game berbasis AI yang bikin sebagian komunitas developer merasa was-was.
Tapi di sisi lain, eksperimen dari legend seperti Yuji Horii membuktikan bahwa jika digunakan sebagai alat bantu kreator, AI bisa mendobrak batasan dan memungkinkan siapa saja (bahkan yang nggak bisa coding) untuk mewujudkan ide game mereka dalam hitungan menit.
Bagaimana menurut kamu? Apakah kamu setuju kalau masa depan industri game bakal didominasi oleh campur tangan AI saat ini? Menurut kalian gimana?