Gimindo | Game Portal

Review ELDEN RING Tarnished Edition (Nintendo Switch 2): Lands Between Kini dalam Genggaman


Elden Ring sebenarnya tak lagi membutuhkan pembuktian.
Empat tahun sejak FromSoftware memadukan formula Souls dengan konsep open-world yang masif, judul ini telah mengukuhkan posisinya di puncak industri game. Ia memboyong piala Game of the Year, membangun komunitas yang masif, sekaligus membuktikan bahwa sebuah RPG yang unforgiving tetap mampu memikat jutaan pemain secara global.
Karena itu, saat Elden Ring akhirnya mendarat di Nintendo Switch 2 lewat paket Tarnished Edition, pertanyaan utamanya bukan lagi soal seberapa bagus gamenya. Kita semua sudah tahu jawabannya.
Pertanyaan yang jauh lebih relevan adalah: seberapa mulus petualangan di Lands Between diterjemahkan ke dalam perangkat portabel?
Pertanyaan ini makin menarik mengingat Tarnished Edition bukan sekadar porting biasa. FromSoftware dan publisher langsung mengemas game utama lengkap dengan ekspansi Shadow of the Erdtree, plus sederet bonus seperti set armor, perlengkapan, kosmetik Torrent, hingga class baru. Bagi pemain yang belum pernah menginjakkan kaki di dunia ini, inilah paket definitif paling komplit.
Setelah menghabiskan belasan jam kembali menjelajahinya di Switch 2, satu kesimpulan muncul secara jelas:
Elden Ring tetaplah sebuah mahakarya. Tarnished Edition menghadirkan porting yang sangat mengesankan, meski bukan yang terbaik secara teknis.
Namun, di situlah letak daya tariknya. Port ini tidak ambisius menandingi visual PlayStation 5, Xbox Series X, atau PC kelas atas. Ia menawarkan nilai jual yang berbeda: kebebasan membawa salah satu RPG terbesar sepanjang masa ke mana saja. Kompromi teknis yang diambil pun rupanya tidak se-ekstrem yang dibayangkan.

Skala Epik yang Tetap Utuh

Ada impresi menarik saat pertama kali menjalankan Elden Ring di layar handheld Switch 2.
Sejak awal, game ini dirancang untuk memamerkan skala. Lands Between terasa megah bukan sekadar demi menampung konten, melainkan untuk memantik rasa penasaran. Selalu ada struktur mencurigakan di kejauhan—mulai dari kastil tua, reruntuhan tanpa nama, gua tersembunyi, hingga lift raksasa yang membawa kita ke peradaban bawah tanah yang tak terduga.
Di sinilah geniusnya level design FromSoftware. Open world di sini bukan sekadar latar belakang, melainkan sarana narasi visual. Tidak ada objective marker berlebihan; pemain didorong untuk mengeksplorasi secara intuitif, lengkap dengan segala risiko fatal yang siap menyambut di balik bukit.
Hebatnya, sensasi keagungan skala tersebut tetap tersampaikan dengan baik di Switch 2. Meski ukuran layarnya lebih ringkas dan dapur pacunya tak sebuas konsol rumah, momen saat melangkah keluar ke Limgrave dan menatap megahnya Erdtree di horizon tetap mampu memicu rasa takjub yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Lands Between tidak kehilangan jiwa dan skala megahnya.

Kekuatan Art Direction Mengalahkan Keterbatasan Hardware

Secara struktur visual, FromSoftware berhasil mempertahankan identitas tiap wilayah secara presisi. Dari hamparan Limgrave yang relatif tenang, nuansa magis Liurnia, atmosfer mencekam di Caelid, hingga kompleksitas arsitektur Leyndell dan kejamnya Realm of Shadow—semua mempertahankan warna serta karakternya masing-masing.
Tentu saja, ada penyesuaian teknis yang tak terhindarkan.
Ketajaman tekstur sedikit dipangkas, sistem pencahayaan disederhanakan, draw distance mengalami penyesuaian, dan pop-in objek masih sesekali terlihat di area terbuka.
Namun, di situlah art direction Elden Ring menunjukkan keunggulannya. Pesona visual game ini pada dasarnya tidak pernah bergantung sepenuhnya pada resolusi tinggi atau tekstur ultra-photorealistic. Elemen terkuatnya ada pada komposisi lanskap, siluet bangunan, pencahayaan atmosferik, serta desain monster yang distropik. Selama fondasi artistik tersebut dijaga, keindahan dunianya tetap terpancar kuat.

Performa 30 FPS: Stabil dan Cukup Andal

Topik yang paling banyak mengundang perdebatan tentu saja adalah performa. Tarnished Edition berjalan dengan target 30 FPS.
Bagi pemain yang terbiasa menikmati game ini di frame rate tinggi, angka tersebut mungkin terdengar sebagai kemunduran. Namun dalam praktik riilnya, yang paling krusial bukanlah seberapa tinggi angkanya, melainkan seberapa konsisten frame rate tersebut dipertahankan.
Sebagian besar sesi permainan—mulai dari eksplorasi area hingga pertarungan standar—berjalan cukup stabil, baik dalam mode docked maupun handheld. Frame drop memang masih terjadi, terutama saat berada di area terbuka yang luas, bertarung melawan boss berukuran masif, atau ketika efek visual sihir memenuhi layar.
Meski begitu, penurunan tersebut tergolong wajar dan tidak sampai merusak ritme pertarungan. Dibandingkan mengejar 60 FPS yang tidak stabil dan berfluktuasi liar, keputusan mengunci performa di 30 FPS yang lumayan solid adalah kompromi yang sangat masuk akal untuk konsol portabel.

Fleksibilitas Handheld yang Mengubah Cara Main

Awalnya, mode docked diperkirakan bakal menjadi cara ideal untuk menikmati game ini. Namun setelah mencobanya langsung, mode handheld justru memberikan sensasi permainan yang jauh lebih segar.
Memainkan Elden Ring secara portable menghadirkan intimasi tersendiri. Layar yang dekat dengan pandangan mata membuat eksplorasi terasa lebih personal dan pertarungan boss terasa lebih intens.
Nilai plus terbesarnya ada pada fleksibilitas. Pemain kini bisa menyelesaikan satu dungeon kecil selama 20 menit di sela aktivitas, menangguhkan konsol, lalu melanjutkannya kapan saja tanpa perlu menyisihkan waktu khusus untuk duduk di depan layar TV.
Elden Ring dasarnya adalah game yang sama. Yang berubah secara signifikan adalah fleksibilitas kita dalam menikmatinya.

Keputusan Akhir

ELDEN RING Tarnished Edition di Nintendo Switch 2 adalah sebuah pencapaian teknis yang sangat solid. Ia membuktikan bahwa game open-world paling ambisius dari FromSoftware dapat dikemas dengan sangat baik ke dalam bentuk portabel tanpa mengorbankan esensi permainannya.
Bagi pemilik Switch 2 yang belum pernah memainkan Elden Ring—atau veteran yang ingin kembali menjelajahi Lands Between dengan fleksibilitas tinggi—rilisan ini adalah salah satu koleksi yang sangat layak untuk dimiliki.


Keunggulan:

Kelemahan:

0 Reviews

Write a Review