Bagi kalian yang terus mengikuti perkembangan game eksklusif PlayStation, pastinya perilisan Marvel’s Wolverine dari Insomniac Games menjadi salah satu yang paling ditunggu-tunggu. Studio yang sukses besar membuat Spider-Man berayun indah di PS5 ini akhirnya melepas sang mutan ikonik berdarah dingin. Tapi pertanyaannya: apakah game ini benar-benar bisa masuk ke nominasi GOTY tahun ini?
Secara mengejutkan, Sayangnya Marvel’s Wolverine terasa seperti game dengan kualitas so-so lah. Game ini tertahan oleh mekanik pertarungan yang terlalu basic, alur cerita yang berantakan, dan rasa kecewa karena game ini sebenarnya punya potensi untuk tampil jauh lebih memukau, tidak seseru Marvel’s Spider-man series.
Latar Belakang Cerita
Kisah ini dimulai beberapa dekade setelah James “Logan” Howlett pertama kali bertemu Nathaniel Essex dan bergabung dengan komunitas mutannya, di mana ia dengan cepat menjadi anggota penting di Tim X. Sebagai pahlawan yang sudah makan asam garam, Logan dikirim untuk menyelidiki ilmuwan Bolivar Trask di tengah laporan hilangnya para mutan. Petualangan ini membawanya melintasi dunia, mengunjungi tempat-tempat baru yang penuh bahaya hingga lokasi lama yang membangkitkan kenangan kelam.
Ceritanya mungkin standar ala film superhero dengan beberapa plot twist yang mudah ditebak, namun saya sangat menyukai versi Wolverine ini. Penampilan voice actor Liam McIntyre memberikan Logan kepribadian yang sepadan dengan cakar tajamnya. Di balik tubuh kekarnya yang tampak seperti mesin pembunuh tumpul. Ia mencoba sembangkan bayang-bayang masa lalunya dengan masa depan kaum mutan, sambil mengendalikan insting hewani yang sering kali bertabrakan dengan rasa belas kasihnya.
Krizia Bajos juga tampil luar biasa sebagai Jean Grey, menjadi jangkar emosional yang mencegah cerita ini jatuh menjadi sekadar kisah buku komik pasaran. Sayangnya, di luar Logan dan Jean, hanya sedikit karakter lain (seperti Mystique atau Sabretooth) yang diberikan ruang cerita untuk benar-benar berkembang.
Momen Terbaik Ada di Tokyo
Bagian pertengahan Marvel’s Wolverine adalah momen di mana game ini terasa benar-benar “hidup”, dan rasanya di sinilah visi sesungguhnya dari Insomniac Games terlihat. Mengambil setting di distrik Tokyo dengan konsep semi open-world, kamu akan mengendalikan Logan yang sedang menggerutu, menyusuri berbagai petunjuk, dan bertarung di jalanan.
Area ini sangat hidup, berlapis, dan menyenangkan untuk dieksplorasi. Gang-gang sempit, poster mencolok, cahaya lampu neon, dan tempat-tempat menarik akan memancing rasa penasaranmu. Di Tokyo, ritme game berubah drastis menjadi lebih baik. Kamu tidak hanya bertarung, tapi juga menggunakan insting Logan untuk mengendus jejak, mencari petunjuk, dan sekadar menikmati suasana kota. Ada progres yang jelas dan bermakna saat kamu menghabiskan waktu di area ini.
Sayangnya, Sisa Game Terasa Terlalu Linear
Kontras dengan Tokyo, bagian game lainnya terasa hampa. Kebanyakan hanya berisi koridor-koridor sempit dan gameplay pertarungan dangkal yang dipisah oleh rentetan cutscene. Berbeda jauh dengan kebebasan di seri game Spider-Man, Wolverine mengadopsi sistem chapter yang sangat linear. Rasanya mirip seperti game Uncharted, namun tanpa eksekusi dan polesan yang mulus.
Setelah kamu meninggalkan Tokyo, alur permainan memang sedikit membaik, tapi elemen pertarungan perlahan mulai mendominasi ruangan-ruangan yang sebenarnya tidak punya fungsi lain selain sebagai arena baku hantam.
Pertarungan Brutal yang Kurang Greget
Sebagai mutan dengan cakar Adamantium, tentu saja pertarungan (combat) Logan terasa sangat gory dan brutal. Cakar Logan akan merobek perut, menembus wajah, dan menghancurkan tengkorak musuh. Sayangnya, meski fungsional dan seru di awal, sistem pertarungannya kehilangan “daya tarik magnetis” yang biasanya ada di game action papan atas.
Masalah terbesarnya ada di sistem Rage yang terasa terlalu rumit namun tidak terlalu berdampak besar di pertarungan, kecuali untuk revive atau bangkit kembali saat Logan tumbang. Kemampuan eksekusi insta-kill juga cukup sulit dipicu karena banyaknya syarat yang harus dipenuhi. Ditambah lagi, elemen-elemen penting pertarungan dikunci di balik perk “Adaptation”. Hal ini membuat kamu merasa seperti sedang memainkan versi trial dari Wolverine hampir di sepanjang game, sampai akhirnya kamu membuka seluruh potensinya di akhir permainan.
Keputusan aneh lainnya adalah mengunci kemampuan multi-parry (menangkis banyak serangan sekaligus) di fase late-game. Sebelum kamu mendapatkan skill ini, kamu akan sering mati konyol saat dikepung musuh. Namun, begitu skill ini terbuka, pertarungan tiba-tiba berubah menjadi tarian mematikan di mana Logan membantai musuhnya seperti mesin pembunuh sungguhan.
Kemana Perginya X-Men?
Meski Wolverine menghadirkan beberapa wajah familiar seperti Jean Grey dan Sabretooth, kelompok X-Men secara mencolok absen dari game ini. Insomniac memang sudah menegaskan bahwa cerita ini mengambil latar di alam semesta tanpa tim Charles Xavier.
Plot ceritanya sendiri terdiri dari tiga babak yang tidak terlalu terhubung satu sama lain, direkatkan secara paksa oleh beberapa kejadian acak dan objektif yang berubah-ubah seiring berjalannya cerita. Banyak mekanik gameplay dan plot cerita yang dimasukkan secara asal-asalan, digunakan sekali, lalu dilupakan begitu saja. Sistem stealth (mengendap-endap) di game ini juga terasa sangat kaku, di mana kamu tidak punya kontrol penuh selain bersembunyi di area yang sudah ditentukan otomatis oleh sistem.
Kesimpulan Akhir
Marvel’s Wolverine bukanlah game yang buruk, melainkan game yang kurang memuaskan dan penuh dengan keputusan desain yang aneh. Bermain game ini memang menyenangkan, tapi tidak akan pernah membuatmu merasa takjub atau merasa bahwa ini adalah mahakarya yang pantas didapatkan oleh karakter sebesar Wolverine. Mungkin kalau masuk nominasi GOTY sudah sangat beruntung.
Untuk ukuran game AAA (terlebih dari studio yang melahirkan Game Spider-Man), game ini terasa cukup “ringan”. Kamu akan kesulitan menghabiskan waktu lebih dari 20 jam untuk mencapai completion rate 100%. Ada beberapa ide dan momen brilian di dalamnya, namun semuanya tertutupi oleh sistem pertarungan yang monoton dan cerita yang tidak fokus. Ironisnya, untuk karakter yang mengklaim dirinya “yang terbaik di bidangnya”, game ini secara keseluruhan hanya bisa dinilai dengan kata: “Lumayan.”
Kelebihan:
- Petualangan hack and slash yang cukup solid untuk sekadar bersenang-senang.
- Beberapa area eksplorasi yang didesain dengan sangat menawan (terutama Tokyo).
Kekurangan:
- Alur cerita yang terasa berantakan dan kurang fokus.
- Sistem combat atau pertarungan tidak pernah benar-benar mencapai titik klimaks yang memuaskan.
- Fitur dan ide gameplay yang terasa tidak konsisten.
Skor Review: