Setelah penantian panjang selama dua dekade, franchise samurai ikonik dari Capcom akhirnya kembali! Onimusha: Way of the Sword resmi meluncur untuk memuaskan dahaga para gamer veteran yang rindu dengan sensasi tebas-menebas iblis Genma. Tapi pertanyaannya, apakah comeback ini sepadan dengan ekspektasi setinggi langit yang sudah terbangun selama 20 tahun?
Reboot yang Berhasil Mempertahankan Jati Diri
Sudah 20 tahun sejak game Onimusha orisinal terakhir dirilis, dan Way of the Sword hadir sebagai reboot total yang menyegarkan franchise ini. Ceritanya hampir tidak terhubung dengan seri-seri lawas, dan gameplay-nya telah dirombak menjadi game aksi karakter yang dibumbui elemen eksplorasi open-zone. Meskipun perubahannya sangat drastis, Capcom tetap sukses mengeksekusi elemen fundamental yang membuat seri Onimusha begitu dicintai.
Di entri terbaru ini, kita tidak lagi bermain sebagai Samanosuke Akechi. Capcom memperkenalkan protagonis baru yang legendaris, Musashi Miyamoto. Karakterisasinya sangat menyegarkan! Musashi awalnya digambarkan sebagai sosok yang hanya peduli pada kekuatan pribadinya.
Game ini membawa tema horor kelam yang sangat kental. Meski Miyamoto Musashi ditemani beberapa sekutu, inti dari permainan ini adalah perjuangan seorang samurai tunggal yang harus berhadapan dengan kengerian absolut dari makhluk-makhluk neraka. Atmosfer yang mencekam ini diterjemahkan ke dalam sistem pertarungan yang metodis, brutal, dan perlahan berevolusi menjadi tontonan sinematik.
Kisah Musashi dan Dedikasi Visual RE Engine
Berlatar di zaman Edo, kita mengikuti kisah Miyamoto Musashi, sang samurai pengembara legendaris. Di tengah duel maut melawan rivalnya, Ganryu, mereka disergap oleh makhluk mengerikan bernama Genma. Setelah dihabisi dan dikirim ke neraka, mereka dibangkitkan kembali oleh kekuatan misterius yang memberikan Oni Gauntlets, artefak peningkat kekuatan yang bekerja dengan menyerap jiwa musuh. Musashi memilih bertarung untuk menyelamatkan dunia, sementara Ganryu memilih jalan pembantaian untuk memuaskan kehausannya akan kekuatan.
Fokus penceritaan dan perkembangan karakter ditekankan dengan sangat kuat di sini. Musashi digambarkan sebagai protagonis yang sangat lovable; konyol saat dimintai tolong, tetapi sangat mematikan ketika memegang pedang. Menariknya, model karakter Musashi didasarkan pada mendiang aktor Jepang legendaris, Toshiro Mifune. Di sinilah kemampuan visual dari RE Engine patut diacungi jempol. Keaslian dalam merender sang aktor sangat dijaga ketat; struktur wajah asli dan identitas fisik dari subjek referensi foto wajib dan telah dipertahankan dengan akurasi 100%. Tidak ada satupun fitur wajah asli atau gaya rambut yang diubah selama proses pembuatan model generasi terbarunya dan ini membuat game ini terasa seperti bentuk penghormatan berkelas tinggi bagi sang aktor, bukan sekadar tempelan visual semata.
Lebih lanjut, eksplorasi lingkungan juga menawarkan estetika desain yang memanjakan mata. Kamu akan dibawa menjelajahi berbagai lokasi yang menawan, mulai dari jalanan Kyoto yang dikelilingi arsitektur zaman Edo, penemuan landmark budaya Jepang yang indah, hingga sensasi berjalan melintasi hutan bambu Jepang yang sangat rimbun dan memancarkan aura mistis. Semuanya terasa memuaskan.
Mitologi Lokal, Eksplorasi, dan Mekanik Pedang “Issen”
Dunia game ini semakin dihidupkan dengan pemanfaatan mitos serta legenda lokal dari seluruh penjuru Kyoto. Saat menyelamatkan patung-patung Anjing Singa (Lion Dogs) yang tersebar di map, kamu tidak hanya mendapatkan material upgrade, tetapi juga membuka catatan sejarah. Lore ini menjadi fondasi cerita yang solid, terutama dalam menjelaskan wujud para Genma yang menjijikkan dan mengerikan.
Sistem Combat yang Keren Abis
Di sinilah Onimusha: Way of the Sword keunggulannya yang paling utama dan memamerkan taringnya. Gameplay action samurai yang ditawarkan benar-benar di luar nalar. Mekanik parry, dodge, serangan berat, hingga serangan balik Issen yang menjadi ciri khas franchise ini dieksekusi dengan kecepatan tinggi dan epik.
Saking intensnya pertarungan, terutama saat berhadapan dengan boss, kamu hampir tidak akan punya waktu untuk bernapas. Salah melakukan dodge atau nekat melakukan healing di momen yang salah hanya akan mengundang maut. Begitu brutalnya ritme combat di game ini, sampai-sampai ada pengakuan analog controller PS5 bisa rusak karena intensitas input yang dibutuhkan saat berjuang bertahan hidup. Meskipun terkadang kamera in-game sedikit kewalahan mengikuti pergerakan musuh yang lincah, combat di game ini sah menjadi salah satu yang terbaik di tahun 2026!
Di Balik Keunggulan tidak lepas dari kekurangan
Sayangnya, setiap kali pedang ini menebas dengan sempurna, ada sisi yang menahan kesempuraan game ini: pacing dan eksplorasi. Onimusha: Way of the Sword menawarkan playtime sekitar 20 jam, namun sejujurnya, konten otentiknya hanya terasa padat di 8 hingga 9 jam pertama. Memasuki paruh kedua, game ini terasa seperti didaur ulang. Kamu akan ditantang menghadapi deretan boss dan mini-boss yang sama berkali-kali tanpa ada perubahan moveset yang berarti, membuatnya terasa seperti grinding paksaan.
Tidak hanya itu, kota Kyoto yang difungsikan sebagai hub area justru menjadi bumerang. Alih-alih mendapatkan level linear klasik ala seri Onimusha lawas, pemain malah sering kali disuruh bolak-balik membersihkan area dari tanaman Malice (racun iblis). Di titik terburuknya, game hack-and-slash epik ini malah terasa seperti farming simulator. Selain itu, dunia game ini sering merusak keseriusan dalam bermain game; kamu bisa melihat area di mana NPC panik diserang Genma, tapi hanya beberapa belokan dari situ, NPC lain malah santai beraktivitas seolah tidak ada kiamat yang sedang terjadi, kan aneh yah?
Kesimpulan
Ketakutan akan tingkat kesulitan game ini (yang sempat ramai saat versi demonya rilis) sama sekali tidak terbukti. Sistem pertarungan perlahan akan meningkat sesuai dengan kemampuan pemain (kurva kesulitan yang organik), memuncak pada pertarungan bos epik yang membutuhkan refleks tajam serta penguasaan mekanik deflect.
Onimusha: Way of the Sword jelas bukan comeback yang sempurna. Game ini cukup kurang di urusan eksplorasi, sistem progression yang stuck, serta konten repetitif yang secara paksa memperpanjang durasi gameplay, namun fukup “fun”.
Namun, setiap kali kamu mengayunkan pedang dan mengeksekusi Issen yang mematikan, semua kekurangan itu seolah termaafkan. Bagi kamu fans berat genre action hack-and-slash, game yang dirilis untuk PC, PS5, Xbox Series X/S, dan Nintendo Switch 2 ini tetap sangat pantas untuk dimainkan, terutama jika kamu memainkannya tidak terburu-buru untuk menghindari rasa repetitif yang membosankan.
Skor Review: 8 / 10
Tersedia di Platform: PC, PlayStation 5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch 2.