Resonance: A Plague Tale Legacy tetap setia pada akar naratifnya, sambil menawarkan pengalaman game aksi yang jauh lebih dinamis serta dengan berani mengambil arah baru.
Siapa yang rela kamu bunuh untuk menyelamatkan dunia? Seorang teman? Orang asing? Orang yang kamu cintai? Pertarungan batin dan moralitas manusia inilah yang selalu menjadi ujung tombak serial A Plague Tale garapan Asobo Studio. Jika kamu sudah memainkan A Plague Tale: Requiem, kamu pasti tahu bahwa post-credit scene game tersebut meninggalkan teka-teki yang menggantung.
Awalnya, ada sedikit rasa skeptis ketika Resonance: A Plague Tale Legacy diumumkan. Meskipun karakter Sophia sangat ikonik, fokus game yang bergeser ke arah aksi—berbanding terbalik dengan elemen stealth kental di seri sebelumnya—menimbulkan kekhawatiran. Apakah Plague Tale akan berubah menjadi game hack-and-slash pasaran yang kehilangan bobot emosionalnya?
Beruntung, kekhawatiran itu salah besar.
Menggali Masa Lalu Sophia dan Tragedi Pulau Misterius
Dalam Resonance, Berlatar 15 tahun sebelum kejadian A Plague Tale: Innocence, sekuel/prekuel spin-off ini mengalihkan fokusnya dari kisah Amicia ke karakter Sophia, yaitu seorang penyelundup ulung dengan kemampuan tempur mematikan dan mulut yang tak kalah tajam. Cerita ditarik mundur ke masa kecilnya, di mana sebuah ordo biarawati misterius menyuntikkan cairan hitam pekat ke tubuhnya. Cairan ini memicu visi tentang sebuah pulau bergaya Yunani kuno yang terlupakan, pulau yang konon menyimpan harta karun raksasa dan monster minotaur.
Diselamatkan oleh ayahnya yang seorang bajak laut, mereka pun berlayar mencari pulau tersebut berbekal buku catatan lusuh milik Sophia. Namun, ini adalah game Plague Tale; tentu saja semuanya berakhir tragis. Kematian misterius sang ayah, pengkhianatan, hingga armada Venesia yang membumihanguskan tempat tinggal mereka menjadi pemicu awal. Bersama rekan sejawatnya, Leni, Sophia berangkat ke pulau tersebut dengan dendam dan keputusasaan.
Teka-Teki Cahaya dan Aksi yang Jauh Lebih Gesit
Pada game ini tidak hanya berganti protagonis, Resonance juga merombak fondasi gameplay: dari petualangan stealth bersembunyi di balik bayangan menjadi game action-adventure bertempo lebih cepat dengan pertarungan pedang langsung. Kamu bisa melempar pisau atau botol pecah untuk memberi efek stun pada musuh. Sistem parry (menangkis) dan dodge (menghindar) terasa luwes, didukung dengan Resonance Points untuk upgrade kemampuan serta berbagai pernak-pernik perhiasan yang meningkatkan kelincahan Sophia.
Meski begitu, pertarungan tidak bisa dianggap remeh. Serangan musuh yang tak bisa ditangkis (unblockable) kerap datang bertubi-tubi. Beberapa pertarungan boss di akhir game bahkan membutuhkan pengenalan pola serangan yang cukup menguras otak.
Di sisi lain, pulau ini dipenuhi teka-teki (puzzle). Berbekal kunci berbentuk bola, kamu harus menyelaraskan cermin pembias cahaya, mencari tinta tak terlihat, dan memanipulasi pancaran sinar. Sayangnya, Asobo terasa sedikit berlebihan di sini. Pola “selesaikan puzzle cermin, lawan prajurit, ulangi” membuat beberapa bagian, terutama Trials utama dan labirin bawah tanah, terasa terlalu repetitif dan membengkak (bloated).
Sang Predator Terselubung: Mahakarya Atmosfer Horor
Walau bergeser ke genre aksi, DNA horor khas Plague Tale tetap kental. Semakin dalam kamu menjelajahi pulau, kamu akan berhadapan dengan monster kabut hitam raksasa bermulut mengerikan layaknya tanaman Triffid, yang siap menyedot nyawamu.
Monster ini benci cahaya, namun sangat menyukai jejak biru bercahaya yang ditinggalkan Sophia saat berlari. Hasilnya? Kamu kembali dipaksa bermain kucing-kucingan ala Requiem dan Innocence. Kamu tidak bisa membunuh makhluk ini; jika ketahuan, pilihannya hanya mati seketika atau kabur dalam sekuens kejar-kejaran yang memacu adrenalin.
Ditambah lagi dengan kehadiran para Petrified, manusia membatu yang kehilangan akal akibat sang monster. Kesunyian lorong gelap, suara klik mengerikan dari belakang, dan partikel hitam pekat yang beterbangan membuat atmosfer game ini sangat sesak, terisolasi, dan sukses menciptakan teror tanpa harus bergantung pada jumpscare murahan.
Narasi Mengoyak Hati & Masalah Teknis di PC
Keunggulan utama Resonance tetaplah pada penceritaannya. Asobo adalah ahlinya merusak hari bahagiamu. Tidak ada karakter yang aman di game ini. Batas antara kawan dan lawan dibuat kabur. Ini bukan kisah heroik yang berakhir bahagia; ini adalah simulator patah hati dengan plot twist bertubi-tubi. Jejak Macula masih ada, dibalut dengan tema pengorbanan dan kehilangan yang terasa sangat familiar dengan Amicia, namun tetap kokoh sebagai kisah unik Sophia.
Sayangnya, dari segi performa teknis di PC, game ini sedikit mencederai imersi. Kami menemukan banyak bug, mulai dari model karakter Sophia kecil yang terbang melintasi layar, karakter yang tersangkut di dalam dinding saat bertarung, hingga tekstur lingkungan yang telat dimuat.
Selain itu, pengaturan tombol (keybind) di keyboard dan mouse terasa canggung. Menggunakan tombol ‘Alt + F’ untuk serangan spesial Sophia atau ‘Caps Lock’ cukup merepotkan di tengah pertarungan intens.
Kesimpulan (Verdict)
Awalnya, ada ketakutan bahwa Resonance akan membuat waralaba Plague Tale menjadi terlalu mainstream. Namun, Asobo Studio berhasil meracik elemen parkour, aksi yang stylish, dan teka-teki tanpa menghilangkan jiwa kelam dari seri aslinya.
Terlepas dari masalah performa teknis di PC dan repetisi pada penempatan musuh serta puzzle, narasi yang disajikan terlalu brilian untuk dilewatkan. Resonance: A Plague Tale Legacy membuktikan bahwa kematian memiliki wajah baru, dan wajah itu benar-benar sepadan untuk kamu hadapi.
Kelebihan:
- Narasi dan cerita yang luar biasa emosional.
- Pertarungan aksi yang gesit, brutal, dan memuaskan.
- Atmosfer horor yang mencekam dan minim jumpscare kacangan.
- Mekanisme monster kabut yang menghadirkan ketegangan intens.
Kekurangan:
- Banyak bug visual dan performa di platform PC.
- Teka-teki cahaya (cermin) dan penempatan musuh terkadang terasa repetitif.
- Masalah pada keybind PC yang kurang responsif.
Skor Akhir: 8.5 / 10
(review ini dibuat menggunakan platform PC)