Cyberpunk 2077 Menuju Layar Lebar, Paramount Picture Gandeng Produser Transformer
Bicara soal masa depan industri game, sepertinya dominasi kecerdasan buatan (AI) akan terjadi lebih cepat dari yang kita bayangkan. Baru-baru ini, kabar mengejutkan datang dari raksasa industri asal Amerika Serikat, Epic Games. Kreator di balik fenomena Fortnite dan Unreal Engine ini dilaporkan telah menginstruksikan para stafnya untuk menerapkan sistem pengembangan berorientasi AI alias “AI-first”.
Menariknya, instruksi ini terbilang sangat radikal: para developer diminta untuk tidak lagi menggunakan kode yang ditulis secara manual (handwritten code) untuk proyek game shooter terbaru mereka yang belum diumumkan!
Proyek Ambisius Epic Dengan Disney
Usut punya usut, game misterius yang sedang digarap ini merupakan buah kolaborasi raksasa antara Epic Games dengan Disney. Seperti yang kita tahu, Disney telah menyuntikkan dana investasi fantastis sebesar $1,5 miliar ke Epic pada awal tahun 2024 lalu. Game ini kabarnya akan menghadirkan karakter-karakter ikonis dari semesta Marvel dan Star Wars.
Sayangnya, proses pengembangan game ini dikabarkan berjalan lebih lambat dari ekspektasi. Salah satu alasannya adalah Epic Games sedikit salah perhitungan mengenai seberapa banyak tenaga kerja manusia yang dibutuhkan. Solusinya? Mereka memutuskan untuk tancap gas dengan bantuan AI generatif.
Dikabarkan para pengembang diberitahu bahwa produksi game ini akan beralih ke model “AI-first”, dengan memanfaatkan alat AI canggih seperti Claude buatan Anthropic. Arahan internal menyebutkan bahwa semua aset visual (art) juga akan sepenuhnya dihasilkan melalui alur kerja AI. Nantinya, peran manusia akan sedikit bergeser menjadi manajer dan pengarah dari hasil kerja AI tersebut.
Bikin Developer Kaget, CEO Epic Games Beri Klarifikasi
Perubahan arah produksi yang mendadak ini jelas membuat para staf tercengang. Dalam sebuah panggilan video internal minggu lalu, beberapa developer merespons dengan candaan sarkas. Mereka bertanya-tanya bagaimana cara menangani error yang dibuat oleh sistem AI, “Apakah kita harus meminta Claude untuk memperbaiki kesalahannya sendiri?”
Meski menuai reaksi beragam, pihak manajemen Epic Games tampaknya sangat serius dengan visi ini. Juru bicara perusahaan menegaskan bahwa mereka sedang merangkul percepatan pengembangan berbasis AI, dengan developer manusia yang tetap bertindak sebagai motor penggerak kreativitas.
CEO Epic Games, Tim Sweeney, juga angkat bicara melalui media sosial untuk mengonfirmasi perombakan besar-besaran di internal perusahaannya.
“Kami sedang melakukan perubahan arah (pivot) yang besar di Epic, memindahkan developer untuk menggunakan tools baru demi akselerasi AI yang maksimal,” tulis Sweeney. “Tujuannya bukan untuk membuat game yang sama dengan staf yang lebih sedikit, tetapi untuk memampukan semua orang di sini agar bisa membangun LEBIH BANYAK dan LEBIH BAIK, serta membawa manfaat tersebut ke semua tim yang menggunakan Unreal.”
Memulai Era Baru Dengan Unreal Engine 6
Langkah agresif Epic Games ini sebenarnya sudah bisa ditebak jika kita melihat rekam jejak mereka belakangan ini. Epic menjadi salah satu perusahaan game AAA pertama yang secara terang-terangan mendukung dan mempraktikkan penggunaan AI generatif secara masif.

Pada bulan Juni 2026, mereka bahkan telah mengumumkan bahwa Unreal Engine 6 (UE6) akan mengintegrasikan berbagai model AI (seperti Claude, Gemini, dan lainnya) langsung ke dalam engine mereka. Tujuannya adalah untuk memangkas pekerjaan teknis yang membosankan dan memakan waktu, sehingga tim developer bisa fokus pada eksekusi ide kreatif.
Penggunaan AI dalam industri game memang masih menjadi topik panas. Isu seputar plagiarisme, hak cipta, hingga kekhawatiran hilangnya “jiwa” dari sebuah game masih menjadi perdebatan sengit di kalangan gamers. Namun, dengan langkah berani dari Epic Games ini, sepertinya tren pembuatan game AAA berbasis AI sudah tidak bisa dihindari lagi.
Bagaimana menurut kalian, gamers? Apakah campur tangan AI secara penuh ini akan mempercepat lahirnya game-game epik masa depan, atau justru membuat game terasa kaku dan monoton?