Cyberpunk 2077 Menuju Layar Lebar, Paramount Picture Gandeng Produser Transformer
Bagi kamu para PC gamer kaum mendang-mending yang sedang menabung demi meminang “Raja Terakhir” kartu grafis, tampaknya kamu harus menelan pil pahit. Nvidia dilaporkan telah menghentikan produksi kartu grafis (GPU) terkuat mereka saat ini, GeForce RTX 5090.
Usut punya usut, langkah drastis ini diambil bukan karena produk ini sepi peminat, melainkan karena Nvidia ingin mengalihkan fokus mereka untuk memproduksi GPU RTX Pro yang dikhususkan untuk kebutuhan pusat data (data center) Artificial Intelligence (AI).
Kenapa Bisa Berhenti Produksi?
Diperkenalkan pertama kali pada Januari 2025 lalu, RTX 5090 langsung menduduki tahta sebagai GPU dengan performa nomor satu. Namun, kepopuleran ini membawa bumerang bagi para gamer. Kehebatan kartu grafis ini dalam melakukan komputasi tingkat tinggi ternyata sangat diminati oleh perusahaan-perusahaan pengembang AI generatif.
Akibatnya? Harga jualnya meroket tak terkendali. Dari harga peluncuran resmi (MSRP) yang berada di angka $1.999 (sekitar Rp 31 jutaan), harga di pasaran kini melambung gila-gilaan hingga menyentuh $4.000 – $5.000 (sekitar Rp 62 juta – Rp 78 jutaan) per unitnya. Begitu stok masuk ke retailer, barang langsung ludes dalam hitungan menit diborong oleh perusahaan AI.
Menurut laporan dari leaker hardware ternama di X (sebelumnya Twitter) yaitu @honzing2020 dan @Zed__Wang (yang juga disorot oleh Tom’s Hardware), Nvidia kini benar-benar telah menyetop total produksi RTX 5090.
Alasan Sebenarnya: Silikon GB202 dan Monopoli AI
Kunci dari keputusan ini ada pada cip silikon yang digunakan. RTX 5090 ditenagai oleh silikon GB202. Masalahnya, silikon yang sama juga digunakan sebagai jantung utama dari jajaran GPU RTX Pro milik Nvidia yang jauh lebih mahal dan memang dirancang khusus untuk beban kerja intensif di data center AI.
Lewat cuitannya, @Zed__Wang menegaskan: “Semua pasokan GB202 di masa depan eksklusif untuk RTX Pro.”
Lalu, apa motif Nvidia di balik ini? Menurut teori Tom’s Hardware, dengan menyuntik mati RTX 5090, Nvidia secara tidak langsung memaksa perusahaan-perusahaan AI agar berhenti memborong kartu grafis gaming (yang harganya lebih “murah” bagi mereka) dan beralih membeli GPU kelas enterprise RTX Pro yang margin keuntungannya jauh lebih besar bagi Nvidia.
Selain itu, karena performa RTX 5090 sangat overpowered dan belum ada perlawanan yang sepadan dari kubu AMD, Nvidia merasa aman-aman saja menarik produk ini dari pasaran tanpa takut kehilangan dominasinya di pasar PC gaming.
Lalu Bagaimana Nasib Para Gamer PC?
Sayangnya, lagi-lagi gamer yang harus jadi korban dari revolusi teknologi AI. Kemampuan GPU untuk melakukan pemrosesan paralel dan komputasi teknis dengan lebih cepat serta efisien dibandingkan CPU menjadikannya komponen wajib untuk melatih jaringan saraf tiruan (neural networks) AI.

Selama perusahaan AI terus “lapar” akan tenaga komputasi dan memborong GPU kelas atas, tampaknya impian para gamer PC hardcore untuk menikmati bermain game dengan pengaturan rata kanan menggunakan RTX 5090 hanya akan tinggal kenangan, atau harus ditebus dengan harga yang sangat tidak masuk akal.
Bagaimana menurutmu? Apakah keputusan Nvidia ini adil bagi para gamer, atau ini murni langkah bisnis yang cerdas di era AI? Dan siap-siap harga Semakin to the moon.