September 2, 2026

Sony Kini Lebih Fokus Pada Pengguna PS Plus Ketimbang Jualan Hardware PS5, Langkah Yang Tepat?

Konsol PlayStation 5 (PS5) kini sudah resmi memasuki paruh kedua dari siklus hidupnya. Mungkin kita sadari bahwa Sony tidak lagi getol untuk menaikkan penjualan perangkat PS5 nya, ternyata ada alasan besar di baliknya. Menurut CEO Sony, Hiroki Totoki, fokus utama PlayStation saat ini bukanlah mencetak rekor penjualan perangkat keras (hardware), melainkan mengeruk keuntungan maksimal dari pemain yang sudah ada, hmmm.

Lantas, bagaimana tepatnya strategi sang raksasa teknologi asal Jepang ini ke depannya?

Strategi PlayStation Dimasa Depan

Dalam wawancaranya bersama The Wall Street Journal, Totoki membeberkan pandangannya mengenai arah bisnis PlayStation. Saat ini, industri teknologi sedang dihantam kelangkaan RAM global yang dipicu oleh masifnya kebutuhan dari perusahaan-perusahaan Artificial Intelligence (AI). Hal ini memang berdampak pada produksi konsol dan memaksa Sony untuk menaikkan harga PS5 di berbagai wilayah.

Namun, Totoki dengan santai menegaskan bahwa kelangkaan tersebut bukanlah masalah terbesar bagi perusahaan.

“Kita sudah berada di paruh kedua siklus hidup konsol PlayStation. Itu artinya, kami tidak perlu lagi secara agresif menjual konsol hari ini,” ungkap Totoki.

Alih-alih mati-matian menjual unit konsol baru, Sony kini ubah haluan untuk berfokus pada recurring revenue atau pendapatan berulang dari pemain yang sudah ada.

125 Juta Pengguna Aktif Sumber Utama Playstation!

Penjualan konsol PS5 sejauh ini memang luar biasa, menyentuh angka lebih dari 95 juta unit di seluruh dunia. Namun, aset paling berharga bagi Sony bukanlah konsol fisik tersebut, melainkan ekosistem digitalnya.

Totoki menyebutkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 125 juta pengguna aktif bulanan di PlayStation, yang didominasi oleh para pelanggan layanan PS Plus.

“Bagaimana cara memonetisasi dari basis pengguna tersebut, itu yang sangat penting bagi kami,” tambahnya.

Artinya, strategi utama Sony saat ini adalah memastikan gamers yang sudah punya PS5 terus memperpanjang langganan PS Plus mereka, membeli game versi digital, dan melakukan transaksi di dalam game (microtransactions/DLC).

Terlalu Dominan, Sony Tak Pusingkan Kompetisi

Bagi sebagian veteran gamers, manuver bisnis Sony di atas angin ini mungkin mengingatkan kita pada era peralihan PS2 ke PS3. Saat itu, kesuksesan fenomenal PS2 membuat Sony kelewat percaya diri dan mengambil beberapa langkah keliru yang merugikan konsumen.

Di era PS5, Sony kembali membuat keputusan-keputusan yang kerap dikritik, seperti terlalu berfokus pada game live service, mulai membunuh pasar game fisik, hingga memaksa pemain PC untuk memiliki akun PSN. Namun, mereka tetap tak tergoyahkan. Mengapa? Karena sang rival abadi, Xbox (Microsoft), masih sibuk tersandung masalah dan restrukturisasi internal, sehingga gagal memberikan perlawanan berarti.

Dominasi pasar PlayStation yang begitu masif membuat Sony bisa bersantai tanpa harus memaksakan promosi konsol besar-besaran. Lagipula, menjelang rilisnya mahakarya paling ditunggu dekade ini, Grand Theft Auto VI (GTA 6), Sony tahu betul bahwa jutaan orang pasti akan secara otomatis menjadikan PS5 sebagai platform pilihan utama mereka.

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu salah satu dari 125 juta ‘Sapi Perah’ bulanan Sony lewat layanan PS Plus?

Bang Gimin

Penulis artikelnya Gimindo.com

Read Previous

PlayStation State of Play September 2026 Digelar Minggu Ini, Bawa Kejutan Besar?

Read Next

Christopher Judge Hampir Perankan Kratos di Serial TV God of War, Namun Putuskan Mundur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *